Jl. Terusan Piranha Atas No.135 Malang [email protected]
Follow us:
Header berita

Menanam Benih Takwa Sejak Dini Melalui Replika Jalur Suci Mekah

Menanam Benih Takwa Sejak Dini Melalui Replika Jalur Suci Mekah

19 May 2026

Menanam Benih Takwa Sejak Dini Melalui Replika Jalur Suci Mekah

Lantunan talbiyah yang syahdu bersahutan memecah keheningan pagi di lingkungan SD Islam Sabilillah Malang 2. Ratusan siswa tampak anggun dan bersahaja mengenakan pakaian ihram putih tanpa jahitan bagi laki-laki, serta pakaian putih bersih bagi perempuan. Hari itu, halaman sekolah disulap sedemikian rupa menyerupai tata letak kota suci Mekah untuk menggelar kegiatan Manasik Haji sebagai media pembelajaran kontekstual sejak dini. Kegiatan ini dirancang khusus agar para siswa tidak hanya menghafal teori di dalam kelas, melainkan dapat merasakan langsung pengalaman spiritual dari setiap rukun Islam yang kelima. Sejak pagi hari, para jamaah haji cilik ini telah berkumpul di maktab buatan dengan membawa paspor dan tiket simulasi, mengajarkan mereka tentang kedisiplinan dan proses administrasi perjalanan ibadah secara nyata. 

Prosesi manasik haji dimulai dengan pelaksanaan wukuf di Arafah, di mana para siswa diajak untuk mendengarkan khutbah singkat dan berdoa dengan khusyuk. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menuju Muzdalifah untuk mengumpulkan batu-batu kecil yang akan digunakan dalam prosesi melontar jumrah di Mina. Sorak semangat anak-anak terdengar saat mereka melemparkan kerikil ke arah tiga pilar jumrah (Ula, Wustha, dan Aqabah) sebagai simbol perlawanan terhadap bisikan keburukan.

Puncak dari rangkaian manasik ini adalah saat para siswa melakukan thawaf, yakni berjalan mengelilingi replika Ka'bah sebanyak tujuh kali putaran sambil terus mengumandangkan zikir. Dengan langkah tertib, mereka kemudian melanjutkan prosesi sa'i, yaitu berlari-lari kecil antara bukit Shofa dan Marwah. Rangkaian manasik haji ini ditutup dengan prosesi tahallul atau memotong sebagian rambut sebagai simbol pembersihan diri. Pihak sekolah menegaskan bahwa melalui praktik langsung ini, nilai-nilai kemandirian, kesabaran, dan kekompakan antar-siswa dapat terbentuk dengan lebih kuat. Manasik haji ini bukan sekadar kegiatan tahunan, melainkan sebuah metode penanaman karakter religius agar benih-benih kerinduan terhadap baitullah sudah tertanam di hati mereka sejak usia belia. Acara diakhiri dengan minum air zam-zam, menyempurnakan kebahagiaan para siswa yang telah berhasil menyelesaikan seluruh rukun haji dengan tertib. Senyum bangga terpancar dari wajah para guru yang melihat anak didiknya mampu mempraktikkan ibadah fisik yang cukup berat ini dengan penuh keceriaan dan khidmat.

Translate