13 April 2026
oleh: Masykur, S.Pd., M.Pd
Ghea Safferina Adany atau biasa dipanggil Ghea merupakan lulusan SD Islam Sabilillah Malang 1 Angkatan 5, masuk di tahun 2000 dan lulus di tahun 2006. Saat ini dia bekerja sendiri membuat mainan edukasi anak dengan brand yang bernama wuffyland serta membuat playground café yang namanya wuffyspace. Selain itu kesibukan utamanya adalah menjalankan peran sebagai istri dan ibu dari dua orang anaknya yang sangat lucu.
Salah satu kenangan yang paling membekas adalah ketika mengikuti ekstrakurikuler jurnalistik. Rasanya bangga sekali ketika diberi kesempatan untuk turun langsung mencari data, menulis, dan melihat hasil karya yang dipublikasikan. Dari situ dia banyak belajar bagaimana pentingnya komunikasi dan keberanian mencoba hal baru. Di kelaspun demikian, dia juga punya cerita favorit saat mengikuti pelajaran PPKn bersama Pak Luqman. Beliau punya cara unik membangun semangat murid-muridnya, setiap jawaban benar atau tantangan yang berhasil diselesaikan akan diberi poin khusus. Poin itu bisa ditempel di buku, dan entah kenapa, meski sederhana, cara itu membuatnya termotivasi luar biasa. Dia jadi rajin mengangkat tangan hanya demi mendapatkan “harta karun” kecil itu.
Namun, bukan hanya soal pelajaran dan kegiatan, yang paling diingat adalah rasa kebersamaan. Hampir setiap hari ada momen yang membuat dia semakin dekat, baik bersama teman-teman maupun guru. Lingkungan sekolah terasa seperti keluarga besar, penuh canda, doa, dan kebersamaan yang hangat.
Luar Biasa Perhatiannya Sekolah Sabilillah
Setelah lulus dan tidak lagi menempuh di Sekolah Sabilillah, namun menurutnya pendidikan dari Sekolah Sabilillah tidaklah berhenti. Mengapa demikian? Karena meskipun dia sudah tidak lagi duduk di bangku Sabilillah, ada satu momen yang membuatnya sangat terharu. Menjelang ujian nasional SMP, tiba-tiba datang sebuah paket dari Sabilillah. Isinya buku doa yang dulu sering dibaca saat di SD Islam Sabilillah, lengkap dengan pesan hangat dan doa dari guru serta orang tua. Rasanya seperti mendapat pelukan dari jauh, seolah-olah sabilillah masih terus mendampingi meski kami sudah melangkah ke fase baru, dan tidak lagi di bangku Sekolah Sabilillah. Ya, inilah sebenarnya Pendidikan Islam itu pikirnya.
Pun demikian dari segi karakter, menurutnya banyak hal yang terus terbawa sampai sekarang, di dunia kerjanya. Apabila dahulu di Sekolah Sabilillah tepatnya di SD Islam Sabilillah Malang 1 (karena saat itu belum ada SD Islam Sabilillah Malang 2), prilaku mencontek benar-benar tidak ada tempat. Jadi, (maaf) mungkin ketika berada di sekolah lain dan melihat praktik itu cukup lumrah, dia merasa janggal. Ada suara hati yang berkata, “ini tidak benar,” karena sejak kecil sudah terbiasa hidup dengan integritas. Selain itu, ada kebiasaan menjaga kebersihan yang tidak pernah hilang. Sampai hari ini, rasanya tidak tenang jika harus membuang sampah sembarangan. Nilai-nilai sederhana seperti ini ternyata menjadi bekal besar dalam kehidupan nyata di masyarakat dan di lingkungan kerjanya.
Iseng, Ternyata Awal Meniti Karir

Tahun 2018, Ghea mulai membuat mainan edukasi dalam jumlah yang lebih banyak lagi, lalu mengunggahnya ke media sosial. Nah, disinilah bukti ternyata begitu kuatnya pengaruh media sosial itu. Awalnya hanya sekadar berbagi, layaknya ibu-ibu yang suka mengabadikan momen bersama anaknya. Namun tiidak disangka oleh Ghea, banyak yang tertarik dan meminta untuk membelinya. Dari situlah, ide sederhana ini mulai berkembang. Pada suatu kesempatan Ghea sempat berleinginan untuk membagikan filenya secara gratis agar orang bisa mencetak sendiri, namun banyak yang justru meminta produk fisiknya karena mereka merasa repot apabila masih harus mengurus ke percetakan untuk proses cetaknya. Akhirnya, mulailah memproduksi dalam jumlah kecil dulu. Perlahan namum pasti, usaha itu tumbuh besar, pesat, hingga dikenal luas oleh masyarakat, bahkan produknya sempat dibeli oleh selebgram dan artis. Sehingga bisa dibayangkan kalau sudah sampai ke tangan selegram dan artis, tentunya akan semakin meluas informasinya. Itung-itung promosi gratis, “katanya.
Puncaknya adalah ketika WuffySpace lahir, yang merupakan playground café pertama di Malang. Dari hanya sebuah ide kecil, usaha ini berkembang hingga memiliki beberapa cabang, dengan yang terbesar berada di Tangerang. Rasanya tak pernah terbayang sebelumnya, bahwa sesuatu yang dimulai dari hobi bisa berkembang sejauh ini. Begitulah apabila takdir Allah SWT yang berkehendak, namun tentunya semua ada prosesnya, usaha, ikhtiar dan do’a yang selalu mengiringinya.
Kebahagiaan orang Tua, Obat Semua Permasalahan Kerja
Layaknya sebuah roda berputas, perjalanan tentu tidak selalu mulus. Ada suka dan duka yang silih berganti. Awalnya dia berpikir usaha ini akan dikerjakan kecil-kecilan karena hanya bermula dari hobi belaka, namun ternyata berkembang hingga memiliki tim ratusan orang di beberapa kota. Sebagaimana hukum alam, semakin besar usahanya tentu tantangan yang dihadapi datang dari berbagai arah: mulai dari produksi, manajemen, operasional, hingga marketing. Rasanya seperti naik roller coaster dalam menghadapinya, kadang melelahkan, namun juga menyenangkan.
Momentum yang membuat semua perjuangannya terasa berharga adalah ketika mendengar testimoni dari para orang tua pelanggannya. Ada ibu yang merasa lebih tenang karena anak-anaknya bisa bermain dan belajar di WuffySpace, ada pula yang mengatakan bahwa produk kami membantu mereka memberikan stimulasi ditengah kesibukannya. Nah, Ketika mendengarkan cerita-cerita seperti itu membuat dia yakin bahwa usaha ini bukan hanya soal bisnis, tetapi juga membawa manfaat nyata bagi orang lain. Itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri baginya. Saya sangat terinspirasi saat di Sekolah Sabilillah dulu pada program PAP (Penanaman Aqidah Pagi) yang salah satu materinya adalah menyampaikan salah satu hadist nabi saw yang berbunyi ‘Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya, ujarnya.
Dinamika yang dihadapi dalam dunia pekerjaannya membuatnya kembali bersyukur atas nilai-nilai yang pernah terimanya saat menjadi bagian dari Sekolah Sabilillah dahulu. Di dunia kerja, banyak hal yang dihadapinya yang dirasa “kurang baik” bisa dengan mudah dinormalisasi. Namun, dengan bekal kejujuran dan integritas yang sudah ditanamkan sejak kecil, Ghea tetap bisa berpijak pada prinsip-prinsip yang benar secara universal dan berdasar syariat Islam Ahlusunnah Wal jama’ah Annahdhiyyah.
Kini, selain menjalankan usahanya Ghea juga berperan sebagai guru, karena setelah menyelesaikan diploma Montessori, yang pada awalnya ilmu itu hanya pelajari untuk mendidik anak-anaknya sendiri, dia juga menerapkannya di WuffySpace. Berdasarkan pada suatu keyakinannya bahwa ilmu ini seharusnya bisa dibagikan lebih luas lagi, bukan hanya untuk anaknya saja. Maka pada akhirnya, di WuffyClass yang dicetuskannya dia ingin menghadirkan ruang belajar yang menyenangkan, menghormati anak, dan membuat mereka merasa dihargai dan saling menghargai diantara sesama.
Bagi Ghea, guru yang baik bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk karakter. Sama seperti pengalamannya yang dulu drasakan di Sekolah Sabilillah. Seorang guru bisa menjadi inspirasi, bahkan lewat hal-hal kecil yang mungkin dianggap sepele.
Pendidikan di Sekolah Sabilillah khususnya penidikan karakter sangat mempengaruhi perjalanan hidup Ghea. Menurutnya sangat besar pengaruhnya karena di Sekolah Sabilillah dia belajar tentang pentingnya integritas, kebersihan, kedisiplinan, hingga kebersamaan. Semua itu menjadi bekal berharga yang terus dibawanya dalam setiap langkah—baik sebagai pengusaha, sebagai guru, maupun sebagai seorang ibu.
Dahsyatnya Pendidikan Sejak Dini
Untuk adik-adik siswa Sekolah Sabilillah yang masih berjuang menimba ilmu, untuk sesama alumni, dan juga masyarakat luas, ada pesan sederhana dari Ghea, “jangan pernah meremehkan nilai-nilai kecil yang ditanamkan sejak dini. Kebiasaan jujur, disiplin, menjaga kebersihan, atau sekadar semangat belajar dengan gembira, karena hal itu bisa menjadi fondasi kuat yang akan menemani perjalanan hidup kelak.
Lebih lanjut, Ghea berpesan juga, bahwa hidup ini memang penuh tantangan, tetapi dengan bekal pendidikan yang baik, kita bisa tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat, menghadapi setiap fase dengan kepala tegak, dan tetap menemukan kebahagiaan di setiap langkah perjalanan.