SD Islam Sabilillah Malang 2 Praktik Bahasa Inggris Bareng Relawan Asal Prancis
SD Islam Sabilillah Malang 2 terus membuktikan kualitasnya dalam mencetak generasi unggul melalui pembelajaran Bahasa Inggris yang aplikatif. Pekan lalu, suasana sekolah tampak berbeda dalam gelaran English Challenge. Bukan sekadar belajar di dalam kelas, para siswa kelas 1 ditantang berkomunikasi langsung dengan penutur asing dalam simulasi pasar tradisional yang seru.Kegiatan ini menghadirkan Loriane Savary, seorang relawan internasional asal Paris, Prancis, yang akrab disapa Miss Lolo. Kehadirannya merupakan bagian dari program Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Sabilillah Malang untuk memberikan paparan bahasa internasional secara nyata kepada para siswa.Pembelajaran dikemas melalui konsep Market Day. Di sini, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi langsung praktik melakukan transaksi jual-beli aneka makanan daerah. Menariknya, seluruh interaksi wajib menggunakan Bahasa Inggris, mulai dari menawarkan barang hingga menyebutkan nominal harga.“Saya sangat kagum dengan anak-anak. Mereka berani dan sangat percaya diri. Meski masih kelas 1, mereka tidak malu untuk berbicara Bahasa Inggris,” ungkap Miss Lolo dengan antusias. Mahasiswi Institut Catholique de Paris ini mengaku terkesan dengan karakter siswa yang santun sekaligus cerdas.Kualitas pembelajaran di SD Islam Sabilillah Malang 2 tidak lepas dari penerapan kurikulum Cambridge. Kehadiran relawan asing seperti Miss Lolo menjadi pelengkap sempurna untuk mengasah pelafalan (pronunciation) dan keberanian siswa.Wakil Kepala SD Islam Sabilillah Malang 2, Yuyun Dwi Suryandari, S.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang agar siswa tidak merasa jenuh. “Agar tidak monoton hanya di dalam kelas, kami menggelar English Challenge selama dua hari dengan tema ‘Tasty’. Siswa belajar mengenal rasa makanan dan minuman melalui presentasi produk,” jelasnya.Sebelum praktik lapangan, para guru telah memberikan pembekalan matang mengenai kosakata transaksi dan nominal uang. Hal ini memastikan setiap siswa memiliki bekal yang cukup saat berdialog langsung dengan Miss Lolo.Keberhasilan siswa kelas 1 dalam menjawab tantangan dialog singkat menunjukkan bahwa sistem pembelajaran di sekolah ini berhasil membangun mentalitas “berani mencoba”. Mental global sejak dini. Interaksi yang terjadi tidak bersifat kaku; Miss Lolo secara aktif menyesuaikan tingkat komunikasi dengan kemampuan siswa, sehingga tercipta suasana belajar yang cair namun tetap berkualitas.“Anak-anak sangat antusias menjelaskan produk mereka dalam Bahasa Inggris. Mereka juga berusaha keras memahami apa yang dikatakan Miss Lolo. Ini adalah kesempatan emas bagi mereka untuk praktik langsung dengan penutur asing,” pungkas Yuyun. (imm/sir/udi)