Jl. Terusan Piranha Atas No.135 Malang [email protected]
Follow us:
Sekolah Islam Sabilillah Malang - SISMA

SD Islam Sabilillah Malang 2, Tumbuhkan Mental Global Sejak Dini

11 February 2026

Namanya Loriane Savary. Asalnya jauh: Paris, Prancis. Mahasiswi Institut Catholique de Paris. Dia calon sarjana sejarah dan ilmu politik. Tapi, pekan lalu, dia ada di Malang. Di SD Islam Sabilillah Malang 2.​Tugasnya bukan mengajar politik. Dia jadi relawan. Jadi bule yang menantang nyali anak-anak kecil.​Acaranya seru: English Challenge. Temanya Tasty. Soal rasa.​Konsepnya cerdas. Tidak di dalam kelas yang kaku. Mereka bikin Market Day. Jualan makanan daerah. Ada yang jualan jajanan, ada yang jualan minuman. Persis pasar tradisional.​Tapi ada syaratnya: dilarang pakai bahasa Indonesia. Harus bahasa Inggris.​Bayangkan. Ini siswa kelas 1 SD. Masih lucu-lucunya. Baru saja lepas dari seragam TK. Tapi mereka sudah harus “berkelahi” dengan lidah asing.​Miss Lolo—begitu mereka menyapa Loriane—turun langsung. Dia jadi pembeli. Dia keliling ke lapak-lapak siswa. Terjadi transaksi. Ada dialog. Ada tawar-menawar. ​”Saya kagum. Mereka berani. Percaya diri sekali,” kata Miss Lolo.​Lolo tidak berjarak. Dia bisa akrab dengan cepat. Anak-anak Sabilillah pun begitu. Tidak ada takut-takutnya. Ada yang menyapa setiap hari, ada yang minta peluk. Santun tapi cerdas. Itu karakter yang ditangkap Lolo.​Tentu, anak-anak itu tidak dilepas begitu saja. Para guru sudah memberi bekal. Bagaimana cara menyapa pembeli. Bagaimana menyebutkan harga. Bagaimana menjelaskan rasa.​Inilah cara SD Islam Sabilillah Malang 2 membumikan kurikulum Cambridge. Tidak hanya teks di buku. Tapi praktik di lapangan.​Wakil Kepala Sekolah, Yuyun Dwi Suryandari, S.Pd tahu betul kuncinya: jangan sampai monoton. Belajar bahasa itu harus asik. Kalau cuma di kelas, bosan. Maka dibuatlah tantangan. ​Hasilnya? Luar biasa.​Anak-anak kelas 1 itu presentasi. Di depan Miss Lolo. Mereka jelaskan apa yang mereka jual. Harganya berapa. Rasanya bagaimana. Miss Lolo balik bertanya. Terjadi dialog.​Di situlah kualitas terlihat. Anak-anak berusaha keras memahami ucapan Lolo. Lolo pun menyesuaikan kecepatan bicaranya. Inilah yang disebut pengalaman emas. Belajar langsung dari sumbernya. Lidah mereka jadi terlatih. Pelafalan jadi pas.​Pekan lalu, di SD Islam Sabilillah 2, bahasa Inggris bukan lagi pelajaran yang menakutkan. Ia jadi alat komunikasi yang menyenangkan. ​Kalau kelas 1 saja sudah berani menantang mahasiswa Prancis, bayangkan akan jadi apa mereka sepuluh tahun lagi.​Dunia memang sudah tanpa batas. Dan anak-anak SDIS-2 ini sudah punya kuncinya. (*)
Translate