Jl. Terusan Piranha Atas No.135 Malang [email protected]
Follow us:
Sekolah Islam Sabilillah Malang - SISMA

Cerdas Bersama AI, Tumbuh Bersama Nurani

16 July 2025

Oleh: Avin Suchasari Suhud, S.Pd

Kita sedang berada di masa serba cepat dengan teknologi yang lebih pintar. Berbagai sektor kehidupan berbalut kecanggihan. Bisnis, pendidikan, ekonomi, kesehatan, industri, hiburan, komunikasi, otomotif, dan lainnya. Banyak hal dalam kehidupan sehari-hari bisa dilakukan lebih cepat menggunakan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

AI bisa menulis, menggambar, memproses-transfer data, mendiagnosa, otomatisasi peralatan rumah, bahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan kompleks layaknya manusia. Tentu hal ini sangat membantu efisiensi tenaga dan mampu memperoleh berbagai materi atau informasi yang lebih akurat dan cepat. Bahkan setiap tahun pun akan semakin banyak profesi pekerjaan yang telah digantikan oleh teknologi canggih ini. Kasir, teller, resepsionis, asisten rumah tangga, customer service, petugas entri data, telemarketer, petugas administratif, desainer, dan masih banyak lainnya. Beberapa layanan dari profesi tersebut sudah tertangani dengan pengembangan teknologi informasi yang semakin pintar, canggih, dan praktis. Semua menjadi serba otomatis. Cepat dan ringkas.

Apa yang dulu dianggap mustahil saat ini bisa dilakukan bahkan hanya dalam hitungan detik berkat kecerdasan buatan yang terus dikembangkan dunia menjadi teknologi yang semakin pintar. Tapi di balik semua kecanggihan itu, muncul sebuah pertanyaan yang juga relevan. Apakah kecerdasan itu hanya soal kecepatan berpikir dan ketepatan data? Apakah hanya soal kemudahan yang lebih praktis? Atau ada hal lain yang lebih mendalam? Di sisi lain, bagaimana dengan tumbuh kembang manusianya, terutama anak dan pendidikannya? Apakah proses yang harus berjalan di tengah perkembangan zaman ini juga perlu diringkas dan menghasilkan output dengan lebih instan? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi sebuah renungan bagi kita untuk mencari refleksi menghadapi fenomena kecanggihan dunia saat ini.

Sebuah pepatah bijak mengatakan ilmu tanpa adab ibarat pohon tanpa akar. Ilmu yang tidak diiringi dengan adab yang baik, maka kebermanfaatannya tidak akan bertahan lama. Bisa sia-sia, merusak, dan membahayakan. Makin banyak yang semakin pandai berteknologi namun tanpa adanya hati nurani dan etika, maka perilaku penyimpang juga akan banyak terjadi. Penyalahgunaan teknologi akan semakin beragam tanpa kendali. Kemudahan melakukan dan menyebar hoaks dan disinformasi, meretas dan mencuri data, penipuan digital, dan akan semakin banyak bertebaran konten tidak bermoral yang tidak terfilter. Bebas dan mudah diakses untuk dikonsumsi siapa saja. Kecenderungan orang hanya akan semakin peduli dengan angka (followers, likes, views) daripada memperbanyak kualitas interaksi sosial. Terlalu fokus pada dunia digital dan mengabaikan hubungan nyata sehingga juga menyebabkan krisis identitas dan mental.

Ada sisi lain yang tidak bisa ditinggalkan di tengah perkembangan kecanggihan ini. Sesuatu yang tidak bisa diprogram dengan coding, algoritma, dan tidak bisa hanya dianalisis dengan data dan angka saja. Yakni, hati. Tentang rasa. Empati, peka, simpati, cinta dan kehangatan. Kecerdasan yang perlu seni asah, asih, dan asuh. Sentuhan-sentuhan ini dibutuhkan untuk tumbuh kembang kita sebagai manusia yang beriringan dengan perubahan peradaban. Melalui pendidikan hati nurani dan hubungan dengan Sang Pencipta.

AI telah memberikan dampak luar biasa pada perkembangan dunia terutama pendidikan. Selain memberikan tantangan baru untuk kemajuan keilmuan, juga dilakukan personalisasi pembelajaran dengan teknologi. Namun pendidikan bukan hanya soal mencerdaskan otak, tapi juga membangun karakter, membentuk jiwa, dan menumbuhkan hati. Dunia sedang berlomba-lomba menciptakan teknologi yang lebih pintar. Tapi seiring dengan itu, apakah kita juga sedang berlomba untuk menjadi manusia yang lebih bijaksana? Karena secanggih apapun kecerdasan buatan itu, ia hanya akan tetap tunduk pada sistem program yang dibuat dan diperintahkan oleh manusia. AI mungkin bisa menghafal ribuan fakta, tapi hanya hati yang bisa mengerti makna tawa bahkan arti tangis dari seorang teman. AI bisa menyusun strategi canggih, tapi hanya hati yang bisa memilih untuk bagaimana manusia bisa memiliki rasa selalu menyayangi keluarga, membalas kasih sayang Ibu, menghormati orang tua dan guru, serta menempatkan diri dalam tata karma. Itulah mengapa jika manusia kehilangan sentuhan hati, maka teknologi akan kehilangan arah.

Bukan artinya kita menolak era canggih saat ini. Justru hadirnya AI perlu kita pelajari. Kita pahami dan memanfaatkannya untuk mengajarkannya kepada generasi saat ini. Menguatkan peran diri kita untuk memastikan bahwa anak-anak harus tumbuh beriringan dengan itu namun kecerdasan hatinya juga menguat. Agar kita dan mereka tidak kehilangan arah dan selalu ingat bagaimana caranya menjadi manusia dan memanusiakan di saat mereka hidup berdampingan dengan algoritma, robot, dan teknologi-teknologi lainnya.

Menstimulasi sosio-emosional untuk tumbuh kembang karakter generasi penerus kita tentang empati, kasih sayang, toleransi, rasa tanggung jawab kepada mereka sejak dini menjadikan nilai kemanusiaan akan hidup. Teknologi memang mempermudah tapi nilai inilah yang menjadi kompas hidup mereka. Kita yang menjadi pengelola kontrol pada diri sendiri harus mampu berusaha sebaik mungkin menjadi teladan manusia yang baik. Penting menata untuk menyeimbangkan interaksi digital dengan aktivitas nyata. Membuka ruang diskusi dan komunikasi dengan anak-anak dan sekitar juga sangat membantu mereka menjadi lebih kritis dalam menangkap sebuah fenomena. Terutama saat melihat berbagai konten digital, memastikan ada pendampingan dan interaksi bersama agar mereka bisa belajar memilih dan memilah, mana yang baik atau berakibat buruk jika dilakukan. Ajak bermain bersama dan komunikasi yang menstimulus daya kritis mereka, melakukan refleksi bersama sehingga sentuhan hati tetap terasa. Bersama di dunia nyata penting untuk diseimbangkan agar membantu membentuk empati dan kemampuan sosial generasi penerus kita.

Menjadikan mereka sebagai subjek dalam ini, bukan objek teknologi. Buat anak-anak bukan saja sebagai konsumen teknologi yang hanya gemar scrolling dan bermain game saja. Kita juga bisa mengarahkan mereka menjadi kreator yang memanfaatkan teknologi untuk kebaikan. Membuat konten positif, memfasilitasi mereka belajar coding, menulis dengan etika, membuat konten berpengaruh yang baik, dan inspiratif. Banyak sekali cara memanfaatkan teknologi agar ke depan generasi kita menjadi lebih terarah tanpa mengesampingkan hati nurani.

Hal-hal lain yang lebih mindfulness adalah membangun ruang untuk ibadah dan berdoa. Ini menumbuhkan iman dan cinta yang baik dan benar. Spiritual dan sisi emosionalnya juga bertumbuh. Memperkuat hubungan horizontal dan vertikal. Ini membantu mengembangkan koneksi batin dan kesadaran bahwa hidup bukan hanya tentang kecepatan dan data, tapi juga tentang makna. Anak-anak akan belajar dari apa yang mereka lihat. Jika kita sendiri menunjukkan sikap bijak, hangat, dan manusiawi dalam menggunakan teknologi, maka mereka pun akan mencontoh hal ini. Kita adalah role model bagi generasi masa depan. Di dunia yang semakin canggih ini, mungkin yang paling dibutuhkan bukanlah teknologi yang lebih hebat, tapi manusia yang mampu mengelola teknologi diiringi dengan kecerdasan hati yang dikelola dengan iman dan nurani. Teknologi hanyalah alat. Tanpa bimbingan hati dan moral, teknologi hanya menjadi alat penghancur, bukan pembangun peradaban manusia yang lebih beradab.

Translate