21 November 2025
Oleh: Izathy Khoirina, S.Pd
Pernahkah kita berniat membuka ponsel sebentar sebelum tidur, hanya untuk mengecek pesan atau melihat kabar terbaru, lalu tanpa sadar satu jam telah berlalu? Jari kita tak berhenti menggulir layar, mata terus menatap, meskipun hati kecil tahu waktu sudah terlalu larut. Inilah fenomena yang disebut scrolling, sebuah kebiasaan sederhana yang ternyata mempunyai dampak pada kehidupan kita.
Scrolling pada dasarnya adalah aktivitas menggulir layar untuk melihat konten. Namun, di era media sosial, scrolling sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Ada beberapa wajah dari scrolling. Pertama, mindless scrolling, yakni menggulir tanpa tujuan, sekadar mencari hiburan ringan.
Kedua, doom scrolling, yaitu terus membaca berita atau konten negatif yang membuat hati semakin cemas. Ketiga, productive scrolling, yakni saat kita memanfaatkan waktu menggulir untuk belajar, mencari inspirasi, atau menemukan informasi bermanfaat.
Mindless scrolling adalah kebiasaan menggulir layar ponsel atau media sosial tanpa tujuan yang jelas. Biasanya dilakukan sebagai pelarian dari rasa bosan atau sekadar kebiasaan otomatis. Aktivitas ini sering kali dimulai dengan niat sederhana, seperti ingin melihat satu postingan atau mengecek pesan, namun berujung pada penggunaan yang jauh lebih lama dari yang direncanakan.
Menurut penelitian dari Frontiers in Psychology (2021), mindless scrolling berkaitan dengan automaticity atau perilaku yang dilakukan secara otomatis tanpa kesadaran penuh. Fenomena ini diperparah oleh fitur infinite scroll yang dirancang untuk membuat konten tak pernah habis, sehingga otak terus terpancing untuk mencari “hal menarik berikutnya.”
Dampaknya, waktu terbuang, konsentrasi menurun, dan sering kali timbul rasa bersalah setelah menyadari betapa lama waktu telah tersedot. Selain itu, mindless scrolling juga dapat mengganggu kualitas tidur. Terutama bila dilakukan sebelum tidur, karena paparan cahaya biru dan stimulasi berlebih membuat otak tetap aktif.
Dalam konteks kesehatan mental, mindless scrolling berbeda dari doom scrolling karena kontennya bisa netral atau hiburan, tetapi efek akhirnya tetap sama: mengurangi produktivitas, mengacaukan manajemen waktu, dan melemahkan kendali diri pengguna.
Doom scrolling adalah kebiasaan terus-menerus menggulir media sosial atau portal berita untuk mencari informasi negatif, meskipun sadar bahwa konten tersebut memicu kecemasan, kesedihan, atau stres. Berbeda dengan mindless scrolling yang biasanya berisi hiburan atau konten ringan, doom scrolling cenderung fokus pada isu-isu suram seperti bencana, politik, kriminalitas, atau gosip penuh drama.
Menurut riset dari Technology, Mind and Behavior (2021), doom scrolling muncul karena kombinasi rasa ingin tahu (curiosity), fear of missing out (FOMO), dan bias negatif dalam otak manusia yang lebih cepat merespons ancaman daripada kabar baik. Sayangnya, kebiasaan ini justru memperburuk kondisi psikologis: semakin sering membaca berita buruk, semakin tinggi pula tingkat kecemasan dan perasaan tak berdaya.
Efek jangka panjangnya dapat berupa anxiety, burnout, gangguan tidur, bahkan depresi. Dalam kerangka digital well-being, doom scrolling disebut sebagai “lingkaran setan informasi,” karena alih-alih membuat seseorang merasa lebih terkendali dengan informasi yang diperolehnya, justru membuatnya makin kewalahan oleh derasnya arus berita buruk.
Mengapa kita betah berlama-lama scrolling? Salah satunya adalah desain aplikasi yang memang dirancang dengan fitur infinite scroll, membuat kita merasa tidak ada habisnya. Selain itu, ada faktor psikologis: setiap guliran memberikan dopamin kecil dari konten baru, membuat otak kita ingin “lagi dan lagi.” Ditambah rasa takut ketinggalan informasi (fear of missing out), kita pun sulit berhenti.
Meski begitu, tidak adil bila scrolling hanya dianggap sebagai musuh. Bila digunakan dengan bijak, scrolling bisa menjadi jendela ilmu, sumber inspirasi, bahkan pintu rezeki. Banyak orang belajar resep baru, menemukan ide bisnis, atau memperkuat silaturahmi lewat dunia digital.
Productive scrolling adalah kebiasaan menggunakan aktivitas menggulir layar secara sadar dan terarah untuk tujuan yang bermanfaat, berbeda dengan mindless scrolling atau doom scrolling yang cenderung membuang waktu atau menimbulkan kecemasan.
Dalam productive scrolling, seseorang menetapkan niat dan batasan waktu sebelum membuka media sosial atau internet. Misalnya untuk mencari inspirasi menulis, mengikuti akun edukatif, membaca artikel penelitian, atau memperbarui informasi terkini di bidang yang relevan dengan pekerjaan maupun minatnya.
Menurut konsep digital well-being yang dibahas oleh Alter (2017) dalam bukunya Irresistible: The Rise of Addictive Technology, kunci produktivitas dalam penggunaan gawai adalah kesadaran (mindfulness)—bahwa setiap aktivitas digital sebaiknya punya nilai tambah, bukan sekadar hiburan tanpa arah. Dengan begitu, scrolling dapat diubah menjadi sarana belajar, membangun jejaring profesional, atau bahkan menjaga relasi sosial yang sehat.
Namun, productive scrolling tetap membutuhkan kontrol diri. Misalnya dengan menetapkan alarm waktu, menghapus aplikasi yang tidak relevan, atau mengikuti akun yang benar-benar mendukung pengembangan diri. Dengan praktik ini, scrolling yang tadinya berpotensi merugikan bisa berubah menjadi kebiasaan digital yang memperkaya pengetahuan, memperluas wawasan, dan menumbuhkan motivasi positif.
Kuncinya adalah kendali. Kita bisa menetapkan batas waktu layar, menentukan niat sebelum membuka ponsel, bahkan mencoba digital detox sesekali. Lebih dari itu, kita perlu mengingat bahwa dunia nyata tetap lebih penting daripada dunia di layar. Ada keluarga yang menunggu cerita kita. Ada pekerjaan yang butuh focus. Ada hati yang perlu ketenangan.
Pada akhirnya, scrolling tidak akan pernah berakhir—konten selalu ada, berita selalu datang, gosip selalu muncul. Tetapi waktu kita di dunia nyata sangat terbatas. Pertanyaannya, maukah kita membiarkan scrolling mencuri waktu berharga itu, ataukah kita memilih menggunakannya dengan sadar dan bermanfaat? (*)
Link: Malang Posco Media
Duck Syndrome, Saat Hidup Terasa Baik-Baik Saja
20 February 2026
Menavigasi Harapan di Tengah Badai Seleksi Nasional
10 February 2026
Langkah Awal Anak Lancar Bahasa Inggris Sejak Dini
07 February 2026