Jl. Terusan Piranha Atas No.135 Malang [email protected]
Follow us:
Sekolah Islam Sabilillah Malang - SISMA

Momen Hari Santri: Teladani Nabi dan Sayangi Kyai, Jangan bercita-cita “menjadi Nabi”

26 October 2026

Oleh: Muhamad Irfan, S.Pd.I

Hari Santri mengingatkan kita pada khittah santri yang sesungguhnya: meneladani, bukan mengklaim. Kita sebagai umat Nabi diperintah untuk meneladani Nabi Muhammad SAW dalam akhlak, sabar, jujur, dan kasih sayangnya. Kita juga diperintah untuk meneladani Kyai dalam keilmuan, keistiqomahan, dan khidmahnya kepada umat. Meneladani berbeda dengan ingin menjadi nabi. Nabi Muhammad adalah Khatamul Anbiya, penutup para nabi. Tidak ada lagi nabi setelah beliau. Maka cita-cita kita bukanlah “menjadi Nabi”, melainkan menjadi pewarisnya karena Al-Ulama Warasatul Anbiya artinya Ulama adalah pewaris para nabi. Cukup bagi santri untuk bercita-cita menjadi ulama yang alim, santri yang sholih, dan warga yang bermanfaat. Akhlak Nabi kita hidupkan dan dawuh Kyai kita jalankan, maka santri telah menjalankan risalah kenabian di zaman ini dengan cara yang benar.

Peran Santri dan Kyai untuk kemerdekan NKRI
Begitu besar dan sangat nyata peran santri untuk kemerdekaan Indonesia karena terbukti sejak sebelum 1945, pesantren menjadi pusat perlawanan penjajah. Puncaknya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari yang membakar semangat santri untuk berjihad mempertahankan kemerdekaan, bertempur di Surabaya dan berbagai medan demi tegaknya NKRI. Peran santri juga termaktub dalam fatwa beliau tentang mempertahankan kemerdekaan Indonesia hukumnya fardhu ‘ain yang artinya wajib bagi setiap muslim. (https://kotayogya.baznas.go.id).

Peran para Kyai juga sangat penting disaat puncaknya Resolusi Jihad dikala itu, diantaranya adalah KH. Hasyim Asy’ari (pencetus) beliau sebagai Rais Akbar NU mengeluarkan fatwa bahwa mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari Belanda/NICA hukumnya fardhu ‘ain, wajib bagi setiap muslim dalam radius 94 km dari Surabaya. Selanjutnya Kyai (sebagai penggerak massa) fatwa itu kemudian disebarkan oleh jaringan kyai pesantren ke seluruh Jawa-Madura melalui pengajian dan utusan santri, sehingga ribuan santri laskar Hizbullah dan Sabilillah berangkat ke Surabaya. (https://medium.com/).

Meneladani Nabi dan Menyayangi Kyai
Meneladani Nabi Muhammad SAW berarti mencontoh akhlak mulianya seperti sidik, amanah, tabligh, dan fathanah dalam kehidupan sehari-hari. Nabi adalah uswatun hasanah, teladan terbaik bagi umat (QS. Al-Ahzab:21). quran-tafsir.net https://jurnal.staisumatera-medan.ac.id/
Sedangkan menyayangi kyai adalah bentuk kecintaan kepada pewaris para nabi. Rasul bersabda “Al-ulama warasatul anbiya” (HR. Abu Dawud). Kyai sebagai pengasuh pesantren membimbing umat dengan ilmu dan doa.Dengan meneladani Nabi kita selamat dunia akhirat, dengan menyayangi kyai kita menjaga sanad keilmuan dan keberkahan. Cinta Nabi diwujudkan lewat sunnah, cinta kyai lewat hormat, taat dalam kebaikan, dan mendoakannya. https://sunnah.com/.

Larangan bercita-cita “menjadi nabi”
Dalam Islam, tidak boleh ada manusia yang mengaku menjadi nabi setelah Nabi Muhammad SAW, karena beliau adalah Khataman Nabiyyin, penutup para nabi. Allah swt berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 40 yang Artinya: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”. (https://quran.com/id/golongan-yang-bersekutu/40-44) Nabi Muhamad saw bersabda yang artinya: “Tidak ada kenabian sesudahku” (HR. Bukhari Muslim). Barangsiapa mengaku nabi setelahnya, maka ia dusta dan murtad menurut ijma’ para ulama. Tugas kita bukan menjadi nabi baru, melainkan menjadi pengikut setia Nabi dan pewaris ilmunya seperti ulama dan kyai.
Pada akhirnya dapat diambil kesimpulan bahwa peringatan Hari Santri pada tanggal 22 Oktober setiap tahunnya bukan sekadar seremonial, melainkan momentum historis dan spiritual untuk memperkuat identitas santri di Indonesia. Dari momentum inilah, tiga nilai utama dapat ditarik sebagai kesimpulan.
1. Meneladani Nabi Muhammad SAW sebagai Uswah Utama. Santri adalah generasi yang dididik untuk meneladani Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah (teladan terbaik). Meneladani Nabi tidak berarti menjadi nabi, tetapi meniru akhlaknya dalam keseharian: jujur (sidiq), dapat dipercaya (amanah), menyampaikan kebenaran (tabligh), dan cerdas (fathanah). Inilah kurikulum utama pesantren, akhlak sebelum ilmu. Nabi adalah sumber inspirasi perjuangan, kesabaran, dan kasih.

2. Menyayangi Kyai sebagai Pewaris Nabi dan Pahlawan Bangsa. Cinta kepada kyai adalah wujud nyata cinta kepada pewaris nabi. Kyai bukan hanya pengajar kitab, tetapi penggerak, legitimator, dan komandan moral bangsa. Maka, menyayangi kyai berarti menghormati ilmunya, menjaga adab, mendoakannya, dan melanjutkan perjuangannya menjaga NKRI dan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah.
3. Larangan Mutlak Bercita-cita Menjadi Nabi. Harus ditegaskan bahwa bercita-cita atau mengaku menjadi nabi setelah Nabi Muhammad SAW adalah haram dan sesat.
Oleh karena itu, ijma’ ulama sepakat bahwa siapa saja yang mengaku nabi setelah Muhammad adalah pendusta.
Penutup, Hari Santri mengajarkan kita untuk bercita-cita setinggi mungkin, tetapi pada jalur yang benar. Bercita-citalah menjadi santri yang berakhlak seperti Nabi, menjadi kyai yang ilmunya bermanfaat, menjadi mujahid yang membela bangsa seperti Resolusi Jihad itulah jalan kemuliaan dunia akhirat.sayang kepada sesama.

Translate