Jl. Terusan Piranha Atas No.135 Malang [email protected]
Follow us:
Sekolah Islam Sabilillah Malang - SISMA

Peran Nahdlatul Ulama dalam Penguatan Pendidikan Karakter di Era Kecerdasan Buatan: Refleksi Mujahadah Kubro dalam Rangka Harlah Satu Abad NU di Stadion Gajayana Malang

12 February 2026

Oleh: Nina Lailatul Muslimah, S.Pd

Mujahadah Kubro dalam rangka Harlah Satu Abad Nahdaltul Ulama yang diselenggarakan di Stadion Gajayana, Kota Malang, merupakan sebuah peristiwa keagamaan yang memiliki makna spiritual dan sosial yang sangat mendalam. Pelaksanaan Mujahadah Kubro tidak hanya menjadi bentuk ibadah kolektif, tetapi juga mencerminkan kekuatan tradisi Nahdlatul Ulama yang terus dijaga dan diwariskan secara turun-temurun. Di tengah dinamika zaman yang semakin modern, kegiatan ini menjadi simbol konsistensi Nahdlatul Ulama dalam menjaga nilai-nilai spiritual, sosial, dan pendidikan yang berlandaskan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.

Momentum Mujahadah Kubro tersebut menjadi refleksi penting bagi dunia pendidikan, khususnya dalam menghadapi tantangan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Saat ini, dunia berada pada era digital yang ditandai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang luar biasa. Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Di zaman yang serba instan ini, hampir seluruh informasi dapat diakses dengan cepat dan mudah melalui perangkat digital. Teknologi AI memungkinkan manusia memperoleh jawaban atas berbagai pertanyaan hanya dalam hitungan detik, tanpa harus melalui proses pencarian dan analisis yang panjang.

Perkembangan teknologi AI juga memberikan dampak signifikan dalam bidang pendidikan. Jika sekitar sepuluh tahun yang lalu para pelajar masih sangat bergantung pada mesin pencari seperti Google untuk menemukan materi pembelajaran, kini mereka mulai beralih menggunakan berbagai platform berbasis AI, seperti ChatGPT, Gemini, dan teknologi sejenis lainnya. Platform-platform tersebut mampu menyajikan jawaban yang sistematis, ringkas, dan mudah dipahami. Tidak dapat dipungkiri, kehadiran AI memberikan kemudahan dan efisiensi dalam proses belajar mengajar, terutama dalam membantu siswa memahami konsep-konsep tertentu atau menyelesaikan tugas akademik.

Namun, kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi AI juga menimbulkan tantangan serius bagi dunia pendidikan. Salah satu dampak yang paling mengkhawatirkan adalah munculnya ketergantungan berlebihan terhadap teknologi tersebut. Banyak pelajar yang menjadi terbiasa mengandalkan AI setiap kali menghadapi kesulitan dalam belajar. Ketika sebuah pertanyaan langsung mendapatkan jawaban instan, proses berpikir kritis dan eksploratif cenderung terabaikan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menumbuhkan sikap malas, kurangnya rasa ingin tahu, serta melemahnya kemampuan problem solving pada diri pelajar.

Sikap malas dan ketergantungan terhadap teknologi, akan berpengaruh langsung terhadap pendidikan karakter peserta didik. Murid yang terbiasa mengandalkan AI cenderung tidak memiliki dorongan untuk menyelesaikan masalah secara mandiri. Mereka kurang terlatih untuk bersabar, berusaha, dan bertanggung jawab atas proses belajar yang dijalani. Padahal, pendidikan sejatinya tidak hanya berorientasi pada pencapaian kognitif semata, tetapi juga bertujuan membentuk karakter dan kepribadian yang kuat.

Dalam konteks inilah dapat ditegaskan bahwa terdapat aspek fundamental dalam pendidikan yang tidak dapat digantikan oleh secanggih apa pun teknologi AI, yaitu pendidikan karakter. AI, meskipun mampu menyajikan informasi dan analisis berbasis data, tidak memiliki kemampuan untuk menanamkan nilai-nilai moral, etika, dan spiritual secara langsung. AI juga tidak mampu mendampingi murid dalam menghadapi persoalan sosial yang kompleks, seperti konflik antar individu, empati terhadap sesama, serta pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Semua aspek tersebut hanya dapat dipelajari dan dialami melalui interaksi nyata antar manusia.

Oleh sebab itu, peran guru dalam pendidikan karakter menjadi sangat krusial dan tidak tergantikan. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi pelajaran, tetapi juga sebagai teladan, pembimbing, dan pendamping bagi peserta didik. Pendidikan karakter yang efektif harus dilakukan melalui keteladanan, pembiasaan, dan interaksi langsung. Hal ini sejalan dengan prinsip-prinsip pendidikan karakter yang diajarkan oleh Nahdlatul Ulama melalui konsep Mabadi Khaira Ummah, yang berarti dasar-dasar pembentukan pribadi yang baik.

Konsep Mabadi Khaira Ummah mencakup lima prinsip utama yang menjadi fondasi pembentukan karakter, yaitu as-shidqu (kejujuran), al-amanah (tanggung jawab), al-‘adl (keadilan), at-ta’awun (tolong-menolong), dan al-istiqamah (konsistensi). Kelima prinsip tersebut merupakan nilai-nilai universal yang relevan sepanjang zaman dan sangat penting dalam membentuk manusia yang berakhlak mulia. Meskipun secara teoritis nilai-nilai tersebut dapat dijelaskan atau diterjemahkan oleh teknologi AI, penerapannya dalam kehidupan nyata membutuhkan proses pendidikan yang melibatkan interaksi langsung antara guru dan murid.

Implementasi nilai-nilai Mabadi Khaira Ummah tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan melalui proses yang berkelanjutan dan konsisten. Guru dan siswa harus berkolaborasi dalam mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam setiap aktivitas pembelajaran, baik di dalam maupun di luar kelas. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menghasilkan individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, tanggung jawab moral, dan komitmen terhadap nilai-nilai kebaikan.

Nahdlatul Ulama memiliki pandangan yang moderat terhadap perkembangan zaman. Dalam kaidahnya, Nahdlatul Ulama tidak menolak kemajuan teknologi, termasuk perkembangan AI. Hal ini tercermin dalam kaidah yang sangat dikenal, yaitu “Al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah”, yang berarti memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Kaidah ini menegaskan pentingnya sikap selektif dan bijaksana dalam menyikapi modernisasi, dengan tetap menjaga nilai-nilai ahlusunnah wal jamaah an nahdliyah.

Dalam konteks pendidikan, kaidah tersebut mengajarkan bahwa teknologi AI dapat dimanfaatkan sebagai alat pendukung pembelajaran. AI dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, memperluas akses informasi, dan membantu proses akademik. Namun, nilai-nilai karakter yang menjadi warisan luhur Nahdlatul Ulama, seperti Mabadi Khaira Ummah, harus tetap menjadi landasan utama dalam pendidikan.

Momentum Mujahadah Kubro yang diselenggarakan di Stadion Gajayana Malang dalam rangka Harlah Satu Abad Nahdlatul Ulama seharusnya menjadi pengingat pentingnya akan tanggung jawab besar dunia pendidikan dalam membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, dan berkeadaban. Warisan nilai-nilai Nahdlatul Ulama harus terus dilestarikan dan dikembangkan agar mampu berjalan seiring dengan kemajuan teknologi. Dengan demikian, pendidikan di era digital tidak hanya berorientasi pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada pembentukan karakter manusia yang utuh dan bermartabat. Sesuai dengan slogan Nahdaltul Ulama saat ini Merawat Jagad Membangun Peradaban.

Translate