Jl. Terusan Piranha Atas No.135 Malang [email protected]
Follow us:
Sekolah Islam Sabilillah Malang - SISMA

Cinta atau Jeratan? Berkaca dari Luka Aurelie Moeremans

19 January 2026

Oleh: Firahil Syaifinnabilah, S.Pd

Tulisan ini bukan sekedar opini, tapi sebuah jeritan hati seorang pendidik yang ingin kita semua lebih waspda. Kita harus belajar dari kasus Aurelie bahwa predator anak tidak selalu datang dengan wajah menyeramkan seperti monster di buku cerita. Sebaliknya, mereka bisa datang sebagai sosok yang sangat baik, sangat protektif, dan seolah menjadi satu – satunya orang yang paling mengerti si anak. Pelaku membangun tembok pemisah yang tak terlihat antara anak dan orang tua. Di sinilah letak bahaya yang paling nyata.

Awal tahun 2026 ini, rutinitas saya terasa terusik oleh sebuah narasi yang menyesakkan dada. Dimana publik dikejutkan oleh pengakuan jujur seorang figur publik Aurelie Moeremans lewat bukunya bertajuk Broken Strings. Aurelie membuka luka lama tentang bagaimana ia menjadi korban Child Grooming di usia remaja. Kisah ini bukan sekedar gosip selebritas yang lewat begitu saja. Bagi saya ini adalah alarm keras yang seharusnya membuat setiap orang tua dan guru di era digital ini terbangun dari tidurnya.

Apa itu child grooming? Serigala berbulu domba. 
Dalam bahasa Inggris, ada istilah grooming yang berarti merapikan atau merawat diri agar terlihat cantik. Namun, dalam konteks yang berbeda, maknanya berubah menjadi gelap dan berbahaya. Pelaku “merawat” atau “membentuk” calon korbannya agar merasa nyaman, dicintai, dan akhirnya tak berdaya untuk dieksploitasi di kemudian hari.

Sering kali masyarakat kita terjebak dalam salah kaprah yang berbahaya. Kita cenderung menganggap bahwa pelecehan seksual selalu dimulai dengan kekerasan fisik, pemaksaan di lorong gelap, atau serangan dari orang asing. Padahal child grooming jauh lebih mulus, terstruktur, dan mematikan secara psikologis. Ini adalah sebuah proses manipulasi di mana seorang dewasa membangun ikatan emosional dan kepercayaan yang mendalam dengan seorang anak untuk tujuan eksploitasi.

Seorang pakar psikologi anak, Dr. Seto Mulyadi, menekankan bahwa anak – anak adalah peniru ulung dan sangat mudah percaya. Pelaku grooming biasanya membangun kepercayaan melalui tiga tahap: pemberian perhatian, isolasi, dan rahasia. Mereka memberi hadiah, perhatian lebih yang tidak diberikan orang tua, lalu perlahan – lahan membuat anak merasa bahwa orang itulah yang paling mengerti mereka.

Mungkin banyak netizen yang masih bertanya, “kenapa Aurelie tidak lapor dari dulu?”. Ini adalah pertanyaan yang menunjukkan betapa minimnya empati dan pengetahuan kita tentang trauma. Karena ketika seseorang mengalami grooming, otak mereka mengalami kebingungan yang luar biasa. Korban merasa memiliki ikatan emosional dengan pelaku karena pelaku juga merupakan orang yang memberikan “kebahagiaan” pada korban. Sehingga korban akan merasa bersalah jika mereka melaporkan hal ini. Mereka akan merasa menghancurkan kehidupan si pelaku yang selama ini “baik” kepada korban. Inilah puncak dari manipulasi psikologis tersebut.

Kita perlu mengajari anak-anak kita tentang boundaries atau batasan sejak dini. Dimulai dari hal simpel seperti tidak diperbolehkan meminjam barang tanpa izin hingga urusan sentuhan fisik dan kontrol emosional. Kita juga harus menyampaikan pesan bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sendiri dan tak satupun orang boleh menyentuhnya tanpa ijin dan alasan yang jelas. Setidaknya anak – anak harus tahu beberapa hal dasar ini:

Cinta tidak pernah bersifat rahasia
Cinta yang tulus harusnya tidak pernah meminta seorang anak untuk berbohong. Jika seseorang berkata “ini rahasia kita berdua ya” itu adalah tanda bahaya paling nyata.

Orang dewasa yang sehat tidak meminta perhatian berlebih dari anak
Orang dewasa yang jiwanya sehat tidak akan meminta cinta, pengakuan emosional, apalagi seksual dari anak yang berusia di bawah umur.

Memiliki pendapat sendiri adalah hak
Kita harus membiasakan anak untuk berani bicara dan beropini. Jika mereka merasa tidak nyaman maka sampaikan ketidaknyamanan itu. Meskipun kepada orang yang “baik” atau “berjasa” kepada mereka.

Kasus Aurelie adalah pengingat bahwa predator bisa ada dan muncul di mana saja. Apalagi di zaman yang serba digital ini. Mereka bisa ada di kolom komentar media sosial, di aplikasi chatting, teman main game online, bahkan di lingkungan sekitar. Maka dari itu harus ada langkah preventif yang bisa gunakan seperti beberapa langkah berikut:

Edukasi seksual sejak dini
Edukasi seksual sejak dini terutama di Indonesia seringkali dianggap suatu hal yang tabu. Padahal ini adalah tembok yang bisa menjaga anak kita dari predator berkedok cinta di luar sana. Ajarkan anak tentang batasan tubuh dan konsep persetujuan. Mereka harus tahu bagian tubuh mana yang bersifat pribadi dan tidak boleh disentuh atau dilihat oleh orang lain, siapapun itu.

Bangun komunikasi terbuka
Hilangkan budaya otoriter “jangan membantah orang tua”. Pastikan dan biasakan anak merasa aman dan nyaman bercerita tentang apapun kepada kita orang tuanya. Petaka bisa dimulai dari kurang baiknya hubungan atau komunikasi antara orang tua dan anak.

Waspadai anak mendapat hadiah berlebihan
Sebagai orang tua kita harus peka jika ada pihak atau orang yang mencoba “membeli” kepercayaan anak kita dengan cara sembunyi – sembunyi dan memberi hadiah berlebih. Seperti uang dan barang – barang yang tidak wajar untuk mengikat hubungan emosi dengan anak.

Pantau aktivitas digital
Anak – anak kita hidup di era cyber grooming yang makin marak di mana – mana. Orang tua harus tau dan peka dengan siapa anak kita berkomunikasi di dunia maya. Untuk memberikan pendampingan penggunaan media sosial dan gadget yang bijaksana.

Secara pribadi, seringkali saya merasa bahwa orang tua dan guru terlalu sibuk dengan nilai matematika atau bahasa Inggris. Hingga kita lupa bahwa mendengarkan cerita – cerita kecil anak adalah hal yang penting dalam proses parenting kita. Anak – anak yang rentan menjadi korban grooming adalah mereka yang merasa kesepian atau kurang mendapat perhatian di rumah. Sedangkan predator adalah pengamat yang ulung. Mereka mencari anak – anak yang haus akan perhatian. Jika kita sebagai guru atau orang tua sudah memenuhi tangki kasih sayang anak – anak kita. Maka iming – iming manis dari orang asing tidak akan mempan.

Kisah Aurelie melalui Broken Strings adalah pengingat pedih bahwa luka akibat grooming mungkin tidak terlihat secara fisik, tidak ada lebam, dan tidak ada darah. Namun dampaknya nyata dan menghancurkan psikologis anak. Mulai dari gangguan makan, depresi, hingga gangguan stress pasca trauma yang bisa menghantui seumur hidup mereka. Sebagai guru saya melihat bahwa anak – anak kita seperti senar gitar yang sedang belajar mengeluarkan nada – nada indahnya. Grooming adalah kejahatan yang dapat memutus senar – senar itu sebelum lagunya selesai dinyanyikan.

Mari kita jadikan kasus viral ini sebagai momentum untuk berubah. Jangan sampai lagi ada pembiaran, tidak enak hati, dan sungkan kepada orang dewasa yang bersikap mencurigakan kepada anak kita. Mari kita jaga senar – senar ini untuk bisa melantunkan nada – nada menjadi sebuah lagu yang indah.

Link Artikel: https://jatimtimes.com/baca/353225/20260119/062500/cinta-atau-jeratan-berkaca-dari-luka-aurelie-moeremans

Translate