Jl. Terusan Piranha Atas No.135 Malang [email protected]
Follow us:
Sekolah Islam Sabilillah Malang - SISMA

Dari FOMO ke FODA, Dari Takut Tertinggal hingga Takut Melangkah

28 October 2026

Oleh: Nissa Melinda, S.Psi

Dunia kerja hari ini dipenuhi tuntutan untuk terus berkembang. Pekerja diharapkan adaptif, produktif, mampu menguasai berbagai keterampilan, mengikuti perkembangan teknologi, terbuka terhadap perubahan, sekaligus memiliki inisiatif untuk mencari peluang baru. Di tengah lingkungan seperti ini, keinginan untuk berkembang tentu merupakan sesuatu yang positif.

Namun, ada fenomena menarik yang semakin mudah ditemui dalam dinamika kerja, terutama di kalangan pekerja yang sedang membangun karier. Keinginan untuk berkembang terkadang tidak lagi muncul semata-mata karena dorongan dari dalam diri, tetapi juga karena ketakutan untuk tertinggal dari orang lain.

Di sinilah istilah FOMO (Fear of Missing Out) menjadi relevan untuk melihat fenomena tersebut. FOMO pada dasarnya menggambarkan kekhawatiran bahwa seseorang sedang melewatkan pengalaman atau kesempatan yang dimiliki orang lain. Dalam konteks pekerjaan, bentuknya dapat terlihat ketika seseorang melihat rekan kerja mengikuti pelatihan, memperoleh sertifikasi, mempelajari keterampilan baru, mendapatkan proyek tertentu, atau mencapai posisi yang lebih tinggi. Kemudian muncul pikiran, “Saya juga harus melakukan itu.”

Dorongan tersebut tidak selalu buruk. Bahkan, perbandingan sosial dapat menjadi sumber informasi dan motivasi. Melihat keberhasilan orang lain dapat membuat seseorang menyadari adanya kompetensi yang perlu dikembangkan atau tujuan yang ingin dicapai. Rasa “saya masih perlu belajar” dapat menjadi energi yang sehat untuk bertumbuh.
Persoalannya muncul ketika perkembangan diri mulai diukur berdasarkan apa yang dilakukan orang lain. Alih-alih bertanya, “Apa yang saya butuhkan untuk berkembang?”, seseorang mulai bertanya, “Apa yang sudah dimiliki orang lain dan belum saya miliki?”

Perbedaannya tampak sederhana, tetapi secara psikologis memiliki konsekuensi yang berbeda. Pertanyaan pertama berorientasi pada kebutuhan dan tujuan pribadi. Pertanyaan kedua lebih banyak dipengaruhi oleh perbandingan sosial.

Dalam situasi tertentu, FOMO bahkan dapat membawa seseorang pada fenomena berikutnya: FOBO (Fear of Better Options). Jika FOMO membuat seseorang takut kehilangan kesempatan, FOBO membuat seseorang takut memilih karena merasa mungkin masih ada pilihan yang lebih baik.

Fenomena ini sangat mungkin muncul dalam dunia kerja yang menawarkan begitu banyak pilihan. Pelatihan apa yang harus diikuti? Keterampilan apa yang paling penting? Apakah perlu mengambil sertifikasi? Apakah harus pindah pekerjaan? Apakah tawaran yang datang sekarang benar-benar lebih baik daripada pekerjaan yang sedang dijalani?
Ketika pilihan semakin banyak, keputusan tidak selalu menjadi semakin mudah. Sebaliknya, terlalu banyak alternatif dapat membuat seseorang terus membandingkan satu pilihan dengan pilihan lainnya. Bahkan setelah keputusan dibuat, muncul kemungkinan untuk kembali mempertanyakannya: “Bagaimana kalau pilihan yang lain ternyata lebih baik?”. Di titik ini, keinginan untuk membuat keputusan yang tepat dapat berubah menjadi kesulitan untuk benar-benar mengambil keputusan.

Jika pola tersebut terus berlanjut, muncullah istilah populer lain, FODA (Fear of Doing Anything), yang digunakan untuk menggambarkan ketakutan melakukan sesuatu karena terlalu banyak kekhawatiran mengenai konsekuensi atau kemungkinan kesalahan. Istilah ini bukan diagnosis psikologis formal, tetapi dapat digunakan sebagai gambaran sederhana tentang kondisi ketika seseorang terlalu banyak mempertimbangkan risiko hingga akhirnya memilih untuk tidak bertindak.

Jika dirangkai, ketiganya menggambarkan sebuah pola yang menarik. Psikolog Barry Schwartz menyebutnya sebagai paradox of choice: semakin banyak pilihan, semakin sulit memutuskan, dan semakin mudah menyesal. Orang yang selalu mengejar pilihan terbaik (maximizer) biasanya lebih lelah dan kurang puas dibanding mereka yang menerima pilihan yang “cukup baik” (satisficer). Bahkan setelah memilih, kita masih bertanya, “Bagaimana kalau pilihan yang satunya lebih baik?”

Tentu, tidak setiap keraguan dalam mengambil keputusan berarti seseorang mengalami FOBO atau FODA. Mempertimbangkan pilihan, menghitung risiko, dan mengevaluasi diri merupakan bagian normal dari proses pengambilan keputusan. Yang perlu diperhatikan adalah ketika pencarian pilihan terbaik justru membuat seseorang tidak mampu menentukan pilihan sama sekali.

Hal ini menjadi semakin relevan dalam budaya kerja yang menempatkan “pertumbuhan” sebagai nilai yang sangat penting. Kita didorong untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, memperluas pengalaman, membangun jejaring, dan menjadi versi diri yang lebih baik. Semua itu pada dasarnya merupakan hal positif. Masalahnya bukan pada pertumbuhan itu sendiri, melainkan pada kemungkinan bahwa seseorang merasa harus terus bergerak karena takut tidak cukup baik. Padahal, merasa belum cukup tidak selalu merupakan sesuatu yang buruk.

Dalam ilmu psikologi, kesadaran terhadap kesenjangan antara kondisi saat ini dan kondisi yang ingin dicapai dapat menjadi pemicu munculnya motivasi. Seseorang yang menyadari bahwa dirinya belum menguasai suatu keterampilan, maka dapat mendorong seseorang untuk belajar. Seseorang yang merasa pekerjaannya masih dapat diperbaiki, maka ia akan melakukan evaluasi. Dengan demikian, rasa “belum cukup” dapat menjadi bahan bakar pertumbuhan.

Namun, bahan bakar tetap membutuhkan arah. Tanpa arah, keinginan untuk terus berkembang dapat berubah menjadi perlombaan tanpa garis akhir. Seseorang terus menambah keterampilan bukan karena semuanya dibutuhkan, tetapi karena takut tertinggal. Terus mencari peluang bukan karena peluang tersebut sesuai dengan tujuan, tetapi karena takut melewatkannya. Terus mempertimbangkan pilihan bukan karena ingin mengambil keputusan secara matang, tetapi karena takut pilihan yang lebih baik datang setelah keputusan dibuat.

Barangkali tantangan pekerja masa kini bukan hanya bagaimana menjadi lebih kompeten, tetapi juga bagaimana menentukan apa yang layak dikejar. Ada perbedaan antara ambisi dan kecemasan. Ambisi berkata, “Saya ingin berkembang ke arah ini.” Kecemasan berkata, “Saya harus berkembang ke segala arah karena saya takut tertinggal.” Ambisi memungkinkan seseorang memilih prioritas. Kecemasan membuat semua hal terasa mendesak. Karena itu, berkembang tidak harus berarti mengambil seluruh kesempatan yang tersedia. Bertumbuh juga membutuhkan kemampuan untuk memilih, menentukan prioritas, dan menerima bahwa setiap pilihan selalu berarti melepaskan pilihan lainnya.

Pada akhirnya, dunia kerja memang akan terus berubah. Tuntutan akan terus muncul dan kesempatan baru akan terus datang. Kita tidak mungkin mengetahui dengan pasti apakah pilihan yang kita ambil merupakan pilihan paling sempurna. Namun, mungkin memang tidak ada keputusan yang harus sempurna. Yang lebih penting adalah apakah keputusan tersebut sesuai dengan kebutuhan, nilai, dan tujuan yang sedang kita jalani. Sebab bertumbuh bukan berarti tidak pernah merasa kurang. Bertumbuh berarti mampu menggunakan rasa kurang itu sebagai bahan bakar tanpa membiarkannya berubah menjadi ketakutan yang mengendalikan arah hidup. Kita boleh takut tertinggal. Kita boleh mempertimbangkan pilihan. Kita bahkan boleh ragu. Tetapi pada akhirnya, bertumbuh membutuhkan satu hal yang tidak dapat diberikan oleh sebanyak apa pun pilihan, yaitu keberanian untuk melangkah.


LINK: Dari FOMO ke FODA

Translate